Permainan gasing mulai jadi tren di Kota Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu. Jumat 07 April 2017 lalu kalangan masyarakat hingga PNS maupun Polri memainkannya di Halaman Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Kapuas Hulu. Sementara pada Sabtu 08 April 2017 hingga Minggu 09 April 2017, gasing juga tampak di mainkan masyarakat Kedamin, Kecamatan Putussibau Selatan dan masyarakat Dogom, Kecamatan Putussibau Utara.
Kepala Bidang Olahraga pada Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kapuas Hulu, Edi Suparman mengatakan, permainan gasing adalah bagian dari kebudayaan yang perlu di lestarikan. Ada nilai-nilai luhur, nilai kebersamaan serta sportifitas dalam permainan gasing ini.
Secara Tugas Pokok dan Fungsi (tupoksi), Bidang Olahraga bertugas memfasilitasi pengembangan olahraga rekreasi. Olahraga rekreasi tersebut termasuklah olahraga Tradisional seperti permainan gasing. “Kedepan memang di rencanakan ada semacam kompetisi untuk memfasilitasi permainan gasing” papar Edi Suparman.
Dalam waktu dekat, ada pargelaran Budaya festival danau sentarum. Dalam kegiatan itu ada rencana event permainan gasing. Ada dua jenis perlombaan gasing, yakni pangkak dan uri. Kalau pangkak itu adalah mengadu fisik gasing dengan gasing, sementara uri itu mengadu lamanya perputaran gasing. “Olahraga Tradisional harus terus di gali juga oleh masyarakat. Sementara kami dari sisi bidang olahraga akan menjajakinya bersama Majelis Adat Budaya Melayu (MABM), Majelis Adat Budaya Thionghoa (MABT) dan Dewan Adat Dayak (DAD) setempat” ujar Edi Suparman.
Dari kalangan masyarakat, sudah membentuk Persatuan Gasing Tradisional (Penganal) Kabupaten Kapuas Hulu. Melalui wadah ini akan ada event untuk kegiatan gasing. “Permainan gasing memang perlu juga motifasi berupa perlombaan. Jadi masyarkat tidak menganggap percuma mereka latihan bermain gasing, tapi ada hasilnya” kata Edi Suparman.
Dari keadaan masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu, di nilai permainan gasing masih eksis, tinggal di lakukan upaya stimulasi minat untuk terus memainkannya.
Untuk pembuatan gasing sendiri, masyarakat kebanyakan menggunakan bahan kayu yang keras, seperti Kempas, Tapang dan Ngeris. Untuk bahan dari kayu Tebelian, itu kurang cocok untuk gasing yang di perlombakan untuk jenis pangkak, karena mudah pecah. Kalau untuk ikut lomba uri, gasing dari bahan kayu belian baru boleh di gunakan.
Biaya pembuatan gasing bervariatif tergantung jenis kayu yang di gunakan. Kalau bahan kayu di bawa sendiri, biaya pembuatannya antara Rp 20.000-, hingga Rp 50.000-,. Tapi kalau bahan dari pengrajin, itu agak mahal. Terkait ketahanan gasing itu sendiri, bisa sampai bertahun-tahun. Untuk pembuatan gasing itu sendiri, dulu di bentuk menggunakan kapak, tapi sekarang ini pakai mesin bubut. Sekitar 10-15 menit sudah jadi satu atau dua gasing.